Di linimasa media sosial, konten “sewa pacar” kerap tampil ringan—dibungkus candaan, tantangan, atau drama singkat. Namun bagi anak dan remaja, format yang tampak “aman” ini bisa menjadi pintu awal manipulasi relasi jika tidak dipahami risikonya. Para pemerhati perlindungan anak mengingatkan: anak perlu dibekali pengetahuan tentang child grooming—bukan untuk menakuti, melainkan memberdayakan.


Apa Itu Child Grooming?

Child grooming adalah proses bertahap ketika seseorang membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan anak—sering kali lewat ruang digital—untuk memanipulasi, mengeksploitasi, atau melanggar batas. Prosesnya bisa tampak ramah: pujian berlebihan, perhatian intens, hadiah virtual, hingga ajakan interaksi privat.

Yang berbahaya, grooming jarang terasa seperti ancaman di awal. Ia tumbuh pelan—di sela obrolan yang terlihat biasa.


Mengapa Konten “Sewa Pacar” Perlu Diwaspadai?

Konten ini kerap:

  • menormalisasi relasi semu dengan imbalan,

  • mengaburkan batas antara peran, emosi, dan privasi,

  • mendorong interaksi personal dengan orang tak dikenal.

Bagi anak yang masih belajar mengenali batasan, narasi seperti ini bisa menurunkan kewaspadaan—membuat mereka lebih mudah menerima ajakan lanjutan di luar konten.


Keamanan Digital adalah Keamanan Publik

Risiko grooming bukan urusan privat semata. Dampaknya merembet ke keamanan publik: kesehatan mental anak, relasi keluarga, hingga kepercayaan pada ruang digital. Ketika literasi rendah, beban pemulihan sering jatuh ke sekolah, layanan kesehatan, dan aparat.

Pencegahan paling efektif dimulai dari pengetahuan dan komunikasi—bukan sekadar pemblokiran.


Bekal Penting untuk Anak

Pendekatan yang dianjurkan para ahli sederhana dan manusiawi:

  1. Kenali tanda awal: perhatian berlebihan, ajakan pindah ke chat privat, permintaan rahasia.

  2. Batas yang jelas: tidak membagikan data pribadi, lokasi, atau foto.

  3. Hak untuk berkata tidak: anak berhak menolak dan memutus kontak kapan pun.

  4. Laporkan tanpa takut: pastikan anak tahu ke siapa harus bercerita—orang tua, guru, atau wali tepercaya.

Bahas dengan bahasa usia mereka—tenang, konkret, dan tanpa stigma.


Peran Orang Tua dan Sekolah

Anak belajar dari contoh. Orang tua dan pendidik perlu:

  • mendampingi, bukan mengintai,

  • membuka ruang dialog rutin tentang pengalaman online,

  • mengajarkan literasi emosi: mengenali pujian yang tulus vs manipulatif,

  • menyepakati aturan digital keluarga/sekolah yang konsisten.

Kepercayaan adalah pagar terbaik. Anak yang merasa aman bercerita lebih cepat terlindungi.


Dimensi Kemanusiaan: Melindungi Tanpa Menyalahkan

Korban grooming sering memikul rasa bersalah. Padahal, pelaku memanfaatkan celah—bukan karena korban “ceroboh”. Pendekatan empatik menempatkan anak sebagai subjek yang dilindungi, bukan dihakimi.

Seorang konselor anak mengatakan, “Pengetahuan memberi anak kekuatan.” Kalimat ini menegaskan tujuan utama edukasi: ketangguhan, bukan ketakutan.


Menjaga Ruang Digital Tetap Aman

Konten kreatif akan terus berkembang. Tugas kita adalah memastikan anak siap secara mental dan informasi. Membekali pengetahuan child grooming berarti menyalakan lampu di lorong yang gelap—agar anak melangkah dengan waspada dan percaya diri.

By admin