Kendari — Upaya memperluas akses makanan bergizi di Sulawesi Tenggara terus bergerak. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mengoptimalkan 32 mitra dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai wilayah provinsi tersebut.

Langkah ini tidak sekadar soal distribusi makanan. Di baliknya ada kerja kolaboratif yang menyentuh aspek kesehatan, keamanan pangan, dan kemanusiaan. Bagi banyak keluarga, dapur-dapur ini menjadi penopang harapan di tengah tantangan ekonomi dan keterbatasan akses gizi.

Dapur sebagai Titik Temu Kepedulian

Setiap dapur SPPG berfungsi lebih dari tempat memasak. Di sana, relawan, pengelola, dan mitra lokal bekerja bersama memastikan makanan yang disiapkan layak, aman, dan bernilai gizi. Prosesnya sederhana, namun penuh tanggung jawab.

Bagi ibu-ibu yang terlibat, aktivitas ini memberi makna baru. Mereka tidak hanya menyiapkan makanan, tetapi juga ikut menjaga masa depan anak-anak di lingkungan sekitar. Kehadiran dapur SPPG menghadirkan rasa saling peduli yang tumbuh dari bawah.

Keamanan Pangan Jadi Prioritas

Dalam perluasan MBG, aspek keamanan pangan menjadi perhatian utama. Bahan makanan dipilih dengan cermat, proses memasak dijaga kebersihannya, dan distribusi dilakukan dengan pengawasan. Semua itu bertujuan melindungi penerima manfaat, terutama anak-anak dan kelompok rentan.

Pendekatan ini penting agar bantuan tidak menimbulkan risiko kesehatan baru. Dengan standar yang jelas, dapur SPPG diharapkan menjadi contoh praktik baik pelayanan publik berbasis komunitas.

Dampak Nyata bagi Masyarakat Sultra

Di sejumlah daerah, kehadiran dapur SPPG mulai terasa dampaknya. Anak-anak datang ke sekolah dengan asupan gizi yang lebih baik. Orang tua merasa terbantu karena kebutuhan dasar keluarga sedikit lebih ringan.

Bagi pelaku usaha lokal, program ini juga membuka ruang partisipasi. Pasokan bahan pangan melibatkan petani dan pedagang setempat, sehingga roda ekonomi lokal ikut bergerak.

Kolaborasi Dunia Usaha dan Kemanusiaan

Keterlibatan Kadin menunjukkan peran dunia usaha tidak hanya terbatas pada sektor ekonomi. Melalui optimalisasi 32 mitra dapur, Kadin mendorong kolaborasi yang menyatukan kepentingan sosial dan kemanusiaan.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pembangunan manusia membutuhkan sinergi. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi.

Harapan untuk Perluasan Berkelanjutan

Ke depan, perluasan MBG di Sulawesi Tenggara diharapkan menjangkau lebih banyak wilayah. Optimalisasi dapur SPPG menjadi fondasi awal untuk memperkuat sistem layanan gizi yang berkelanjutan.

Bagi masyarakat, program ini bukan sekadar bantuan sementara. Ia menjadi simbol kepedulian bersama, bahwa pemenuhan gizi adalah tanggung jawab kolektif demi masa depan yang lebih sehat dan berkeadilan.

By admin