Surabaya — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam sebagai langkah penting untuk memperkuat harmoni sosial dan kebangsaan. Dialog yang digelar di Istana Merdeka itu dipandang sebagai ruang silaturahmi strategis—tempat negara dan elemen masyarakat saling mendengar dalam suasana saling menghormati.
Bagi Khofifah, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda formal. Di tengah dinamika ekonomi dan sosial yang terus bergerak, komunikasi terbuka dengan tokoh-tokoh keagamaan menjadi penopang ketenangan publik. “Harmoni lahir dari dialog. Ketika negara membuka pintu, kepercayaan tumbuh,” ujarnya.
Dialog sebagai Fondasi Ketenteraman
Khofifah menekankan bahwa ormas Islam memiliki peran historis dan sosial yang luas—dari pendidikan, dakwah, hingga kerja-kerja kemanusiaan di akar rumput. Ketika pemerintah duduk satu meja dengan mereka, pesan kebijakan dapat tersampaikan lebih membumi, sekaligus menyerap aspirasi nyata dari masyarakat.
Dalam perspektif keamanan publik, dialog semacam ini berfungsi sebagai penyejuk. Ia membantu mencegah salah paham, meredam disinformasi, dan menjaga ruang publik tetap kondusif. “Stabilitas bukan hanya soal angka ekonomi, tapi juga rasa adil dan didengar,” kata Khofifah.
Hukum, Kebijakan, dan Rasa Keadilan
Khofifah juga menyoroti pentingnya sinergi antara kebijakan negara dan nilai-nilai keagamaan yang hidup di masyarakat. Keterbukaan pemerintah untuk berdiskusi dinilai memperkuat legitimasi kebijakan—terutama pada isu-isu strategis yang menyentuh hajat hidup orang banyak.
Pendekatan dialogis, menurutnya, sejalan dengan prinsip negara hukum yang berkeadilan: kebijakan dirumuskan dengan partisipasi, dilaksanakan dengan empati, dan diawasi bersama.
Kemanusiaan di Pusat Percakapan
Lebih jauh, Khofifah melihat pertemuan itu sebagai perwujudan politik kemanusiaan. Ormas Islam kerap menjadi garda terdepan saat bencana, krisis sosial, atau kebutuhan mendesak muncul. Menguatkan relasi dengan mereka berarti memperkuat jejaring kepedulian—agar bantuan cepat sampai dan konflik sosial dapat dicegah.
“Ketika pemerintah dan ormas berjalan seiring, masyarakat merasakan kehadiran negara secara nyata,” ujarnya.
Menjaga Persatuan dalam Keberagaman
Indonesia berdiri di atas keberagaman. Khofifah menilai, pertemuan Presiden dengan ormas Islam mengirimkan pesan kuat tentang persatuan: perbedaan dirawat, bukan dipertentangkan. Dialog menjadi jembatan yang menautkan kebijakan dengan nilai-nilai kebangsaan.
Di tengah tantangan global dan domestik, langkah ini diharapkan memperkokoh rasa saling percaya—antara negara dan warga—sehingga harmoni sosial tetap terjaga.
Jalan Panjang yang Perlu Dijaga
Khofifah mengingatkan bahwa dialog harus berkelanjutan. Silaturahmi yang konsisten akan memperkuat kepercayaan, memastikan aspirasi terserap, dan kebijakan berjalan dengan dukungan publik. “Harmoni tidak lahir sekali pertemuan. Ia dijaga lewat komitmen,” tuturnya.
Dengan semangat itu, pertemuan Prabowo dengan ormas Islam dinilai bukan hanya agenda politik, melainkan ikhtiar merawat kebersamaan—agar Indonesia tetap damai, adil, dan berkeadaban.
