Jakarta (initogel) — Di tengah ramainya perbincangan publik soal ongkos transportasi, satu penegasan disampaikan untuk menenangkan pengguna layanan: kenaikan tarif Transjakarta belum ditetapkan. Pernyataan itu disampaikan Pramono Anung, menegaskan bahwa pemerintah masih mengkaji secara menyeluruh berbagai aspek sebelum mengambil keputusan apa pun.
Bagi jutaan warga yang bergantung pada Transjakarta setiap hari—pekerja, pelajar, hingga lansia—kepastian ini penting. Tarif bukan sekadar angka; ia menentukan akses, keberlanjutan mobilitas, dan rasa aman di ruang publik.
Menjaga Akses dan Keadilan Mobilitas
Pramono menekankan bahwa setiap kebijakan tarif harus mempertimbangkan daya beli masyarakat dan tujuan utama transportasi publik: menyediakan layanan yang terjangkau, aman, dan andal. “Belum ada keputusan,” tegasnya, seraya menyebut proses evaluasi masih berjalan.
Evaluasi itu mencakup kualitas layanan, efisiensi operasional, serta keberlanjutan fiskal. Pemerintah ingin memastikan bahwa langkah apa pun tidak menutup akses kelompok rentan yang selama ini bergantung pada transportasi massal.
Human Interest: Denyut Harian di Halte
Di halte-halte, kabar ini disambut lega. Seorang pekerja komuter berkata, “Kalau tarif naik, kami harus menghitung ulang semua.” Bagi mereka, Transjakarta adalah tulang punggung rutinitas—membawa anak ke sekolah, menuju kantor, pulang ke rumah dengan biaya yang bisa diprediksi.
Kepastian sementara ini memberi ruang bernapas: warga bisa merencanakan pengeluaran tanpa kekhawatiran mendadak.
Keamanan Publik dan Kualitas Layanan
Transportasi publik yang terjangkau berkontribusi langsung pada keamanan publik. Ketika layanan massal kuat dan ramah dompet, kemacetan berkurang, risiko kecelakaan menurun, dan kualitas udara membaik. Pramono menegaskan, pembenahan layanan—ketepatan waktu, kenyamanan, dan keselamatan—tetap menjadi prioritas, apa pun keputusan tarif ke depan.
Pemerintah juga menimbang insentif dan skema subsidi agar peningkatan layanan tidak otomatis dibebankan kepada penumpang.
Tata Kelola dan Transparansi
Soal tarif menyentuh aspek hukum dan tata kelola. Pramono menegaskan bahwa keputusan akan diambil secara transparan, melibatkan kajian teknis dan masukan publik. Tidak ada langkah sepihak. Tujuannya menjaga kepercayaan warga sekaligus memastikan keberlanjutan operasional Transjakarta.
Menimbang Banyak Kepentingan
Di satu sisi, ada kebutuhan menjaga kualitas dan cakupan layanan. Di sisi lain, ada kewajiban melindungi akses warga. Pramono menyebut pemerintah akan mencari titik temu—meningkatkan efisiensi internal, memaksimalkan pendapatan non-tarif, dan memperbaiki manajemen—sebelum mempertimbangkan opsi yang berdampak langsung ke penumpang.
Penutup
Penegasan bahwa kenaikan tarif Transjakarta belum ditetapkan memberi sinyal kehati-hatian dan empati. Di kota besar, mobilitas adalah hak dasar yang memengaruhi pendidikan, pekerjaan, dan kesejahteraan.
Selama proses kajian berjalan, warga berharap satu hal sederhana: keputusan yang adil—yang menjaga dompet, meningkatkan layanan, dan membuat perjalanan harian tetap aman serta manusiawi.
